Hadiah Kejujuran Untuk Ibu
Fifi bingung tingkat tinggi, ia tidak ingin teman-temannya datang ke rumahnya untuk belajar kelompok. Fifi khawatir dan takut bila teman-temannya tahu kalau Ibunya adalah..
“Duh, kenapa sih Ibu kok ada acara pulang segala ??” keluhnya kesal sambil melemparkan bantal dan memukul sofa di ruang tamu.
Sore itu Fifi gelisah sekali. Sampai-sampai dia tidak bisa konsentrasi dengan buku cerita yang sedang ia baca. Ibu masih bulan depan berangkat lagi ke Malaysia. Padahal minggu ini, teman-temannya ada kegiatan belajar kelompok di rumahnya.
“Bagaimana ya caranya mengatakan pada Ibu?” Begitu pikirnya setiap saat. Dalam hati kecilnya, ada perasaan takut Ibu tersinggung bahkan marah akan maksudnya. Terlebih Ibu sangat bersemangat akan menjamu teman-temannya nanti ketika belajar kelompok di rumah Fifi.
“Fi, jangan khawatir bila teman-temanmu belajar kelompok. Nanti Ibu bikinkan es buah dan kue yang enak,” kata Ibu ketika ia bercerita kalau minggu ini teman-temannya akan belajar kelompok di rumahnya.
Masih saja melekat dalam ingatan Fifi, peristiwa minggu lalu. Sore itu Fifi dan beberapa teman-temannya belajar kelompok di rumah Ratna. Ratna adalah anak orang kaya, kedua orangtuanya memiliki bisnis tekstil yang sukses dan memiliki beberapa cabang di seluruh Indonesia. Fifi dan teman-temannya sangat mengagumi rumah Ratna yang megah dan mewah. Halaman rumah yang luas, dengan taman yang asri, perabotan rumah yang bagus dan mengkilat, bahkan toilet rumahnya seluas kamar tidur Fifi.
Ketika sedang asik belajar tiba-tiba datanglah pembatu Ratna membawa minuman dingin dan kue. Namanya bi Minah, orangnya sudah cukup tua, namun kelihataannya masih lincah.
Bi Minah yang repot membawa baki, tak bisa melihat jalan. Tiba-tiba kakinya menginjak kotak pensil yang tergeletak di lantai. Kemudian Bi Minah terjatuh di lantai, gelas yang dibawanya jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping, air sirup memercik ke sana sini dan mengenai buku pelajaran kami.
Bi minah kaget, kami pun tak kalah kagetnya. Ratna yang kukenal sebagai teman yang baik hati tiba-tiba berdiri dan mendekati Bi Minah. Kupikir dia akan mebantu Bi Minah membersihkan kepingan kaca gelas yang berhamburan. Ternyata tidak.
“Waah ini kan gelas mahal !” teriak Ratna kesal. Eeh jadi pembantu kalau kerja yang betul dong. Nih, lihat buku Ratna jadi basah.” Lanjutnya sambil meninggikan nada suaranya. Ayo cepat bersihkan, dasar pembantu tua, bikin berantakan saja!”, perintah Ratna galak. Beberapa temanku disitu malah tersenyum seperti mengejek Bi Minah.
Bi Minah yang Malang itu pun pergi ke dapur dengan kaki terseok-seok. Kaki kirinya berdarah terkena pecahan kaca, sehingga harus diseret ketika berjalan. Fifi memperhatikan dengan sedih. Tiba-tiba ia ingat pada Ibu. Ibu bekerja di luar negeri sebagai pembantu seperti Bi Minah.
Peristiwa di rumah Ratna membuat hati Fifi sedih sekaligus takut. “Benarkah pekerjaan sebagai pembatu begitu rendahnya?” Ada kekhawatiran dalam hatinya. “Bagaimana bila teman-temannya tahu bahwa Ibunya bekerja sebagai pembantu seperti Bi Minah? Masih maukah mereka berteman dengan Fifi si anak pembantu?”
Karenanya, Fifi tidak ingin Ibu menjumpai teman-temannya ketika belajar kelompok nanti. Apalagi logat bicara Ibu sangat Malaysia, karena lama tinggal di sana. Terbayangkan teman-temannya nanti akan mentertawainya, lalu tidak mau lagi bersahabat dengannya.
Semakin mendekati dengan hari belajar kelompok, Fifi semakin gelisah. Bingung apa yang harus dilakukannya. Lalu, tanpa sepengetahuan Ibu, ia pergi ke rumah tante Irma. Tante Irma adalah adik Ibu yang tinggal di samping rumah Fifi. Selama ditinggal Ibu kerja di Malaysia, Tante Irma yang menjaga Fifi, bagi Fifi tante Irma seperti Ibu sendiri. Bahkan teman-temannya selama ini menyangka Tante Irmalah Ibu Fifi. Apa yang membuat resah pikirannya diceritakan semua pada wanita setengah baya itu. Fifi juga mengusulkan Tante Irma saja yang menemui teman-temannya ketika kelak mereka belajar kelompok.
“Sungguh Tante, Fifi malu kalau semua teman-temanku tahu pekerjaan Ibu. Fifi mohon, Tante saja ya yang menemui teman-teman ya,” pintanya sepenuh hati.
Tetapi, Tante Irma tak sependapat dengan Fifi. Bahkan ia sedih dengan sikap Fifi.
“Fifi, Ibumu pulang karena kangen sekali ingin bertemu denganmu. Jadi coba bayangkan, bagaimana kalau Ibumu tahu anaknya malu terhadap keadaannya? Pasti Ibu akan sedih sekali,” kata tante Irma.
Kemudian Tante Irma bercerita bahwa Ibu berkerja keluar negeri sebagai pembantu untuk membiayai masa depan Fifi.
“Ketika Fifi masih kecil, Ayah Fifi meninggal disebabkan mengalami kecelakaan kerja sebagai kuli bangunan,” kata tante Irma sedih. “Dengan berbekal ijasah SMP Ibumu berjuang mencari pekerjaan ke luar negeri. Demi mencari uang untuk keperluan sekolahmu,” demikian tante Irma menjelaskan.
“Seharusnya kau bangga terhadap perjuangan Ibu, Fi! Ibu bekerja keras demi membahagiakanmu. Sehingga Fifi bisa tetap bersekolah seperti teman-teman Fifi yang memiliki orang tua lengkap,” kata tante Irma dengan nada yang mengharukan.
Fifi mengangguk perlahan, di ujung matanya tanpa sadar mengalir air mata penyesalan.
“Kalau ada temanmu yang melecehkan Ibumu, Fifilah yang berkewajiban membela dan menjelaskan. Tidak perlu malu,” Tante Irma menasihati Fifi dengan raut wajah serius.
Fifi sadar sekarang dengan pemahamannya yang keliru. Hilanglah kekhawatirannya. Menjadi paham kini setelah mendengar penjelasan Tante Irma.
Ibu ternyata seorang yang hebat, meskipun bekerja sebagai pembantu. Ibu jauh-jauh keluar negeri berjuang untuk menyekolahkan Fifi.
Lalu Fifi berlari pulang dan langsung memeluk Ibu yang sedang menyapu halaman rumah. “Maafkan Fifi, Bu,” bisiknya. ***
* Ratih Indri Hapsari; Mengajar di SMK Kesehatan Purworejo; menetap di: kipas_hapsari@yahoo.com; Fb: @Indiera Hapsari Ratih